Pendahuluan
Memahami dan mendokumentasikan proses bisnis sangat penting bagi setiap organisasi yang bertujuan meningkatkan efisiensi, mengidentifikasi area otomatisasi, dan memastikan kelancaran operasional. Kasus bisnis dan diagram generalisasi UML (Unified Modeling Language) adalah alat yang kuat untuk mencapai tujuan-tujuan tersebut. Panduan ini akan menjelaskan konsep-konsep kasus bisnis, perbedaannya dengan kasus biasa, serta cara menggunakan diagram generalisasi UML untuk memodelkan proses-proses ini secara efektif.

Kasus Bisnis
Definisi
Kasus bisnis menggambarkan proses bisnis dalam terminologi bebas teknologi, dengan memperlakukan proses sebagai kotak hitam. Fokusnya terletak pada interaksi antara aktor bisnis dan proses itu sendiri, tanpa memperdalam detail teknis tentang bagaimana proses tersebut diimplementasikan.
Karakteristik Utama
- Bebas Teknologi: Dijelaskan tanpa mengacu pada teknologi atau sistem tertentu.
- Fokus pada Proses Bisnis: Menekankan proses bisnis dan interaksi antara aktor bisnis.
- Pendekatan Kotak Hitam: Memperlakukan proses sebagai kotak hitam, dengan fokus pada masukan dan keluaran, bukan pada proses internal.
Perbedaan dari Kasus Biasa
- Cakupan: Kasus bisnis menggambarkan proses manual dan tidak selalu otomatis. Kasus biasa berfokus pada fungsi sistem dan layanan yang disediakan kepada pengguna.
- Tingkat Detail: Kasus bisnis bersifat lebih tingkat tinggi dan lebih abstrak, sementara kasus biasa lebih rinci dan spesifik terhadap fungsi sistem.
- Tujuan: Kasus bisnis digunakan untuk memahami dan mendokumentasikan proses bisnis, sementara kasus biasa digunakan untuk menentukan persyaratan dan fungsi sistem.
Diagram Generalisasi UML
Definisi
Diagram generalisasi UML digunakan untuk menunjukkan hubungan pewarisan antara kelas atau kasus penggunaan. Mereka menggambarkan bagaimana sebuah kelas atau kasus penggunaan umum dapat dikembangkan menjadi yang lebih spesifik.
Konsep Utama
- Generalisasi: Hubungan antara kelas umum atau kasus penggunaan (induk) dan kelas atau kasus penggunaan yang lebih spesifik (anak).
- Pewarisan: Kelas anak atau kasus penggunaan mewarisi atribut dan perilaku dari induknya.
- Spesialisasi: Proses pembuatan kelas atau kasus penggunaan yang lebih spesifik dari yang umum.
Contoh: Proses Check-in Bandara

Aktor
- Penumpang: Aktor utama yang melalui proses check-in.
- Pemandu Wisata: Aktor khusus yang mungkin memiliki tanggung jawab atau hak tambahan.
Kasus Penggunaan
- Pemeriksaan Keamanan: Kasus penggunaan bisnis yang menggambarkan proses pemeriksaan keamanan untuk penumpang.
- Check-in Bagasi: Kasus penggunaan bisnis yang dapat diperluas untuk mencakup langkah-langkah tambahan.
- Check-in Perorangan: Kasus penggunaan khusus yang mencakup perilaku check-in bagasi.
- Check-in Kelompok: Kasus penggunaan yang lebih spesifik yang mencakup check-in perorangan tetapi mungkin memiliki langkah atau variasi tambahan.
Hubungan
- Generalisasi: Hubungan antara “Penumpang” dan “Pemandu Wisata.”
- Sertakan: Hubungan antara “Check-in Perorangan” dan “Check-in Kelompok.”
- Perluas: Hubungan antara “Check-in Bagasi” dan perluasannya.
Cara Membuat Diagram Generalisasi UML
Langkah 1: Identifikasi Aktor
Identifikasi aktor yang terlibat dalam proses bisnis. Dalam contoh ini, aktor-aktornya adalah “Penumpang” dan “Pemandu Wisata.”
Langkah 2: Tentukan Kasus Penggunaan Bisnis
Tentukan kasus penggunaan bisnis yang menggambarkan proses bisnis. Untuk proses check-in bandara, kasus penggunaannya adalah “Pemeriksaan Keamanan,” “Check-in Bagasi,” “Check-in Perorangan,” dan “Check-in Kelompok.”
Langkah 3: Tetapkan Hubungan
- Generalisasi: Hubungkan “Penumpang” ke “Pemandu Wisata” untuk menunjukkan hubungan generalisasi.
- Sertakan: Hubungkan “Check-in Individu” ke “Check-in Kelompok” untuk menunjukkan bahwa check-in kelompok mencakup perilaku check-in individu.
- Perluas: Hubungkan “Check-in Bagasi” ke perluasannya untuk menunjukkan langkah-langkah tambahan yang dapat dimasukkan.
Langkah 4: Gambar Diagram
Gunakan alat UML untuk membuat diagram generalisasi. Sertakan aktor, kasus penggunaan, dan hubungan. Pastikan diagram tersebut jelas dan mudah dipahami.
Kiat dan Trik
1. Buat Sederhana
Mulailah dengan diagram sederhana dan secara bertahap tambahkan detail seiring Anda mengumpulkan informasi lebih banyak. Hindari membuat diagram terlalu rumit dengan terlalu banyak kasus penggunaan dan hubungan.
2. Gunakan Nama yang Deskriptif
Gunakan nama yang jelas dan deskriptif untuk aktor dan kasus penggunaan agar diagram mudah dipahami.
3. Fokus pada Proses Bisnis
Pastikan diagram tersebut fokus pada proses bisnis dan interaksi antar aktor. Hindari menyertakan detail teknis atau spesifik implementasi.
4. Validasi dengan Pemangku Kepentingan
Secara rutin tinjau dan validasi diagram bersama pemangku kepentingan untuk memastikan diagram tersebut secara akurat merepresentasikan kebutuhan dan proses mereka.
5. Gunakan Alat
Gunakan alat UML seperti Visual Paradigm untuk membuat dan mengelola diagram generalisasi. Alat-alat ini menyediakan fitur untuk dengan mudah membuat, mengubah, dan berbagi diagram.

Kesimpulan
Kasus penggunaan bisnis dan diagram generalisasi UML adalah alat penting untuk mendokumentasikan dan memahami proses bisnis. Dengan memperlakukan proses sebagai kotak hitam dan berfokus pada interaksi antar aktor bisnis, kasus penggunaan bisnis memberikan gambaran tingkat tinggi tentang proses tersebut. Diagram generalisasi UML membantu menggambarkan hubungan pewarisan dan spesialisasi, sehingga memudahkan pemahaman bagaimana proses umum dapat dispesialisasi menjadi proses yang lebih spesifik. Panduan ini memberikan gambaran komprehensif tentang konsep-konsep ini dan cara menerapkannya secara efektif dalam praktik.
This post is also available in Deutsch, English, Español, فارسی, Français, 日本語, Polski, Portuguese, Ру́сский, Việt Nam, 简体中文 and 繁體中文.












